Showing posts with label personal. Show all posts
Jadi ibu yang rendah hati dan mau belajar, itu lebih baik !
![]() |
| pic dari mbah gugel |
Ibu-ibu tetaplah seorang perempuan yang lebih meninggikan perasaannya. Dan itu sangat manusiawi.
Ibu,
bagi saya apapun yang telah ibu-ibu lakukan untuk buah hati ibu adalah yang terbaik bagi ananda. Karena pasti semua telah dipikirkan untung ruginya, baik buruknya. Dan tidak ada ibu yang sempurna didunia ini. Tapi banyak cara untuk menjadi ibu yang lebih baik dari hari ke hari.
Seorang ibu yang tidak dapat memberi ASI misalnya, bukan berarti dia adalah ibu yang tidak baik. Mungkin banyak hal yang menjadi pemikiran mereka untuk mengganti ASInya dengan susu formula. Dan banyak lagi kasus lainnya yang .. sudahlah tidak saya bahas disinipun pasti semua sudah pada paham bukan ? .
Tapi ibu, sebaik-baiknya seorang ibu adalah ibu yang mau belajar. Sebaik-baiknya seorang ibu adalah ibu yang rendah hati menerima saran-saran dan pengetahuan baru yang nantinya bisa menambah wawasan tentang segala hal untuk ananda. Jelas tentunya harus disampaikan secara santun agar lebih mengena. Cibiran, sindiran bukan hal yang tepat untuk membawa perubahan kearah yang lebih baik.
Bagi saya, bukan peran saya, yang pandai berkoar-koar menyerukan hal-hal mengenai itu semua. karena sayapun sadar diri punya keterbatasan dalam mengolah kata-kata. Takutnya malah jadi pada kesindir , takutnya malah jadi sakit hati. Jadi yang hanya bisa saya lakukan sekarang adalah berdiri dibelakang untuk mendukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan.
Seperti yang bang tere liye bilang,
Jika
kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya,
janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di
depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang
orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan. Itu lebih
baik.
--Tere Liye, novel 'Eliana'
--Tere Liye, novel 'Eliana'
anak UAS, haruskah orang tua ikut stres?
![]() |
| ini gaya Regan waktu baca buku tarih Islam, eh ada milkshake tapi boongan bahannya kapas sama lego :P |
Ya mungkin saya salah, dan keadaan seperti ini harusnya dihindari. Jangan sampai ibu stres gara-gara uas kebawa-bawa sama anak. Yang ada malah anak semakin nggak semangat buat belajar, merasa terlalu dipaksa dan akhirnya membuatnya tidak nyaman.
Ini ada tips pereda stres saat anak menghadapi Ujian Akhir Semester, mungkin ini saja yang bisa saya lakukan biar nggak over hehehe :
1. Yakinlah apa yang sudah ananda perjuangkan saat belajar disekolah adalah yang terbaik sesuai kemampuannya.
2. Berikan pilihan kepada ananda untuk mengatur waktu belajarnya tanpa harus mengikat dan memaksa.
3. Berilah motivasi kepada ananda supaya tetap bersemangat saat belajar dan mendampinginya selalu.
4. Tidak perlu menargetkan yang muluk-muluk kepada ananda. Karena angka-angka tidak menjadi syarat mutlak keberhasilan ananda di masa depan.
5. Berikan kepercayaan penuh kepada ananda supaya ananda juga bisa belajar bertanggung jawab atas dirinya.
6. Doa. Bagaimanapun juga doa orang tualah yang menjadi salah satu kunci penentu keberhasilan ananda. Rajin-rajinlah mendoakan kebaikan untuk ananda .
Ini cara terbaik menurut saya yang akan saya lakukan mulai detik ini, karena besok Regan sudah menjalani UAS. Ibu tahu Regan bisa dan mampu. Semangat sayang, semoga sukses ^^
Bagiku, keluarga itu...?
Dear Serena Biskuit...
Lembaran kisah ini berawal dari kisah sederhana sebuah keluarga kecil bernama " keluargaku ". Mungkin bagi orang lain kisah kehidupan keluarga kecil kami tidak begitu menarik. Tapi yang penting bukan itu sepertinya, bukan cara pandang orang lain mengenai kami, tapi bagaimana cara kami menata kehidupan ini, bagaimana usaha kami sampai sejauh ini membawa keluarga kearah yang lebih baik dari hari ke hari.
Aku adalah seorang istri dari seorang laki-laki bernama Yogi. Kami dikaruniai dua orang anak laki-laki bernama Regan Prawara Guritno ( 6 ) dan Abhinawa Pradya Guritno ( 3 ). Tahun ini adalah tahun ke tujuh pernikahan kami. Banyak hal yang telah kami lalui bersama, baik suka maupun duka. Tujuh tahun mungkin bukan rentang waktu yang terlalu lama tapi juga bukan waktu yang sebentar. Tujuh tahun itu tidak selalu kami lalui dengan keadaan baik-baik saja , lancar jaya seperti nama toko bangunan diseberang jalan itu hehe. Tapi tujuh tahun ini kami lalui dengan warna-warni yang memberi corak kehidupan dalam hari-hari kami. Corak itu kadang cerah kadang gelap, tapi telah sanggup menciptakan nuansa keindahan dalam sebuah kisah perjalanan pernikahan.
Kami bukan keluarga yang berada ,bukan pula berasal dari keluarga yang serba punya. Kami berasal dari kesederhanaan dan kami ingin membangun kisah sederhana namun tetap manis.
Siang ini siang yang terik, matahari bersinar dengan gagahnya. Biasanya aku dapati siang mendung dan dingin menusuk, tapi hari ini beda. Hangat sekali. Hmm.. sungguh hari yang menyenangkan bagi ku dan keluarga. Karena sudah seminggu ini suami cuti. Sebulan lalu kami harus terpisah jarak karena pekerjaan. Kali ini saatnya balas dendam. Dan kami bisa berkumpul bersama dalam kehangatan.
Ada satu yang hilang rasanya saat satu bagian keluarga kecilku tidak berada dirumah bersama. Inilah yang kami rasakan hampir sebulan lamanya. Rindu sudah tak bisa lagi terbendung, saat-saat berkumpul menjadi sesuatu yang amat dinanti. Biasanya tiap minggu kami jalan-jalan walau hanya untuk duduk-duduk dipinggir pantai ujung kota, atau menghabiskan waktu bersama dengan berwisata murah meriah di taman kota. Bagi kami itu menu wajib tiap suami libur kerja. Karena kapan lagi anak-anak bisa berkumpul bersama dengan bapaknya kalau nggak pas liburan.
Seperti sore ini, saat aku menulis, anak-anak setia bermain bersama bapaknya. Mereka serius melihat sang bapak merakit jembatan dari bricks. Begitu jadi merekapun menyambutnya dengan gembira kemudian memainkannya. Riyuh teriakan anak-anak memang sering kami dengar, bagi kami, ibu dan bapaknya hal itu merupakan penyemangat hidup,tanpa keriyuhan itu terasa begitu sepi dan hambar hidup ini.Seperti juga saat suami pulang kantor. Anak-anak menyambut sang bapak didepan pintu dengan teriakan ceria. Sungguh pemandangan yang begitu indah dalam kehangatan sebuah keluarga.
Malam harinya kami selalu menyempatkan untuk makan bersama di depan tivi. Kami tidak punya meja makan, jadi setiap makan kami selalu makan bersama lesehan didepan tivi. Kebahagiaan itu semakin terwujud walau hanya dengan lauk seadanya. Sederhana, dan kami berusaha mensyukuri yang kami punya walau hanya punya sebakul nasi. Bagi kami hal seperti itulah yang terkadang bisa menguatkan kami satu sama lain.
Bagiku kebersamaan itu penting. Karena dari situlah keakraban dan kekompakan bisa terwujud. Kalau kata wong jowo " mangan ora mangan asal kumpul " , biar nggak punya apa-apa asal bisa bersama selalu kira-kira begitulah maknanya. Dan pripsip itulah yang kami pegang, agar kelak anak-anak sampai cucu-cicit kami tetap bisa menjalin keakraban serta kekompakan dalam satu naungan keluarga besar.
Serena..bagi ku keluarga itu ibarat payung
sebab, dalam keluargalah aku bernaung. Saat jauh, saat lelah melanda, saat jenuh, saat punya masalah, keluargalah tempat kembali yang paling indah. Disana tempat orang-orang setia dalam suka dan duka, yang benar-benar mencintai tanpa syarat, mengerti tanpa menghakimi, merindu dan selalu menanti kehadiranku. Ibarat sebuah payung yang siap melindungi dari air hujan dan panas matahari. Begitu berartinya keluarga bagiku.
Keluarga juga ibarat rantai. Yang kuat terangkai . Maksudnya adalah dalam sebuah keluarga harus saling menguatkan, saling mempersatukan, kompak dalam kebersamaan. Seperti rantai yang terangkai kuat. Selalu menjaga silaturahim itu inti dari keberadaan keluarga yang sebenarnya. Dan kalaupun ada yang mengaku punya keluarga tapi enggan bersilaturahim sama artinya dia hidup sendiri di dunia ini. huhuhu menyedihkan bukan ?. Tentunya serena lover tidak termasuk dalam individu semacam itu.
Dan satu lagi bagiku keluarga itu ibarat biskuit. Ya, biskuit itu manis, sama seperti keluarga. Keluarga itu tempatnya menyimpan segala kenangan manis, kisah-kisah manis yang bisa selalu menginspirasiku, memberi semangat untuk tetap berjuang demi keluarga, serta senantiasa mampu memberi energi positif untuk tetap berkarya memberi yang terbaik untuk keluarga.
Serena,
satu yang aku ingin dalam hidupku adalah membangun keluargaku bagai payung, rantai, dan biskuit. Maka dari itu aku dan suami selalu mengajarkan arti saling menghormati, menyayangi serta menumbuhkan rasa simpati dan empati, mengajarkan tentang segala macam segi kehidupan kepada anak-anakku, Regan dan Abee. Mulai dari yang sederhana misalnya adik harus rela memberi kesempatan kakaknya untuk mengambil makanan terlebih dahulu, kemudian kakaknya harus sayang dan perhatian kepada adiknya, dan juga menumbuhkan sikap saling bekerjasama antara mereka berdua melalui permainan-permainan sederhana dalam rumah salah satu contohnya seperti mengupas kulit telur bersama, apabila adik mengalami kesulitan maka kakak harus membantunya, atau sekedar berbagi biskuit serena saat santai , yang tujuannya tak lain agar tercapai keakraban dan kekompakan dalam keluarga kecilku nanti.
Serena,
Inilah kisah kami, kehidupan kami, kesederhanaan kami, yang terangkum manis dalam buku harian keluarga kami.
Lembaran kisah ini berawal dari kisah sederhana sebuah keluarga kecil bernama " keluargaku ". Mungkin bagi orang lain kisah kehidupan keluarga kecil kami tidak begitu menarik. Tapi yang penting bukan itu sepertinya, bukan cara pandang orang lain mengenai kami, tapi bagaimana cara kami menata kehidupan ini, bagaimana usaha kami sampai sejauh ini membawa keluarga kearah yang lebih baik dari hari ke hari.
Aku adalah seorang istri dari seorang laki-laki bernama Yogi. Kami dikaruniai dua orang anak laki-laki bernama Regan Prawara Guritno ( 6 ) dan Abhinawa Pradya Guritno ( 3 ). Tahun ini adalah tahun ke tujuh pernikahan kami. Banyak hal yang telah kami lalui bersama, baik suka maupun duka. Tujuh tahun mungkin bukan rentang waktu yang terlalu lama tapi juga bukan waktu yang sebentar. Tujuh tahun itu tidak selalu kami lalui dengan keadaan baik-baik saja , lancar jaya seperti nama toko bangunan diseberang jalan itu hehe. Tapi tujuh tahun ini kami lalui dengan warna-warni yang memberi corak kehidupan dalam hari-hari kami. Corak itu kadang cerah kadang gelap, tapi telah sanggup menciptakan nuansa keindahan dalam sebuah kisah perjalanan pernikahan.
Kami bukan keluarga yang berada ,bukan pula berasal dari keluarga yang serba punya. Kami berasal dari kesederhanaan dan kami ingin membangun kisah sederhana namun tetap manis.
***
Siang ini siang yang terik, matahari bersinar dengan gagahnya. Biasanya aku dapati siang mendung dan dingin menusuk, tapi hari ini beda. Hangat sekali. Hmm.. sungguh hari yang menyenangkan bagi ku dan keluarga. Karena sudah seminggu ini suami cuti. Sebulan lalu kami harus terpisah jarak karena pekerjaan. Kali ini saatnya balas dendam. Dan kami bisa berkumpul bersama dalam kehangatan.
Ada satu yang hilang rasanya saat satu bagian keluarga kecilku tidak berada dirumah bersama. Inilah yang kami rasakan hampir sebulan lamanya. Rindu sudah tak bisa lagi terbendung, saat-saat berkumpul menjadi sesuatu yang amat dinanti. Biasanya tiap minggu kami jalan-jalan walau hanya untuk duduk-duduk dipinggir pantai ujung kota, atau menghabiskan waktu bersama dengan berwisata murah meriah di taman kota. Bagi kami itu menu wajib tiap suami libur kerja. Karena kapan lagi anak-anak bisa berkumpul bersama dengan bapaknya kalau nggak pas liburan.
Seperti sore ini, saat aku menulis, anak-anak setia bermain bersama bapaknya. Mereka serius melihat sang bapak merakit jembatan dari bricks. Begitu jadi merekapun menyambutnya dengan gembira kemudian memainkannya. Riyuh teriakan anak-anak memang sering kami dengar, bagi kami, ibu dan bapaknya hal itu merupakan penyemangat hidup,tanpa keriyuhan itu terasa begitu sepi dan hambar hidup ini.Seperti juga saat suami pulang kantor. Anak-anak menyambut sang bapak didepan pintu dengan teriakan ceria. Sungguh pemandangan yang begitu indah dalam kehangatan sebuah keluarga.
Malam harinya kami selalu menyempatkan untuk makan bersama di depan tivi. Kami tidak punya meja makan, jadi setiap makan kami selalu makan bersama lesehan didepan tivi. Kebahagiaan itu semakin terwujud walau hanya dengan lauk seadanya. Sederhana, dan kami berusaha mensyukuri yang kami punya walau hanya punya sebakul nasi. Bagi kami hal seperti itulah yang terkadang bisa menguatkan kami satu sama lain.
Bagiku kebersamaan itu penting. Karena dari situlah keakraban dan kekompakan bisa terwujud. Kalau kata wong jowo " mangan ora mangan asal kumpul " , biar nggak punya apa-apa asal bisa bersama selalu kira-kira begitulah maknanya. Dan pripsip itulah yang kami pegang, agar kelak anak-anak sampai cucu-cicit kami tetap bisa menjalin keakraban serta kekompakan dalam satu naungan keluarga besar.
Serena..bagi ku keluarga itu ibarat payung
sebab, dalam keluargalah aku bernaung. Saat jauh, saat lelah melanda, saat jenuh, saat punya masalah, keluargalah tempat kembali yang paling indah. Disana tempat orang-orang setia dalam suka dan duka, yang benar-benar mencintai tanpa syarat, mengerti tanpa menghakimi, merindu dan selalu menanti kehadiranku. Ibarat sebuah payung yang siap melindungi dari air hujan dan panas matahari. Begitu berartinya keluarga bagiku.
Keluarga juga ibarat rantai. Yang kuat terangkai . Maksudnya adalah dalam sebuah keluarga harus saling menguatkan, saling mempersatukan, kompak dalam kebersamaan. Seperti rantai yang terangkai kuat. Selalu menjaga silaturahim itu inti dari keberadaan keluarga yang sebenarnya. Dan kalaupun ada yang mengaku punya keluarga tapi enggan bersilaturahim sama artinya dia hidup sendiri di dunia ini. huhuhu menyedihkan bukan ?. Tentunya serena lover tidak termasuk dalam individu semacam itu.
Dan satu lagi bagiku keluarga itu ibarat biskuit. Ya, biskuit itu manis, sama seperti keluarga. Keluarga itu tempatnya menyimpan segala kenangan manis, kisah-kisah manis yang bisa selalu menginspirasiku, memberi semangat untuk tetap berjuang demi keluarga, serta senantiasa mampu memberi energi positif untuk tetap berkarya memberi yang terbaik untuk keluarga.
Serena,
satu yang aku ingin dalam hidupku adalah membangun keluargaku bagai payung, rantai, dan biskuit. Maka dari itu aku dan suami selalu mengajarkan arti saling menghormati, menyayangi serta menumbuhkan rasa simpati dan empati, mengajarkan tentang segala macam segi kehidupan kepada anak-anakku, Regan dan Abee. Mulai dari yang sederhana misalnya adik harus rela memberi kesempatan kakaknya untuk mengambil makanan terlebih dahulu, kemudian kakaknya harus sayang dan perhatian kepada adiknya, dan juga menumbuhkan sikap saling bekerjasama antara mereka berdua melalui permainan-permainan sederhana dalam rumah salah satu contohnya seperti mengupas kulit telur bersama, apabila adik mengalami kesulitan maka kakak harus membantunya, atau sekedar berbagi biskuit serena saat santai , yang tujuannya tak lain agar tercapai keakraban dan kekompakan dalam keluarga kecilku nanti.
Serena,
Inilah kisah kami, kehidupan kami, kesederhanaan kami, yang terangkum manis dalam buku harian keluarga kami.
"Keluarga itu ibarat payung, rantai dan biskuit"
-nia puspa-





